Kamis, 10 Januari 2013

EORI MENGENAI PROSA FIKSI (NOVEL DAN CERPEN)

.1 Latar Belakang Masalah
Menulis merupakan salah satu dari empat aspek kebahasaan yang dipelajari dalam bahasa Indonesia. Menulis adalah sebagai suatu kegiatan penyampaian pesan (komunikasi) dengan menggunakan bahasa tulis sebagai alat atau medianya (Dalman, 2009:8). Oleh karena itu, dalam pelaksanaannya menulis membutuhkan proses berfikir untuk menuangkan ide-ide atau gagasan.

Dalam membuat tulisan yang bersifat fiksi, tentunya penulis harus mengetahui terlebih dahulu teori atau cara membuat karya fiksi. Jenis fiksi ini pun terbagi menjadi beberapa macam, novel dan cerita pendek (cerpen) merupakan dua bentuk karya sastra yang sekaligus disebut fiksi (Nurgiyantoro, 2007:9).
Membuat fiksi tidaklah semudah kedengarannya. Banyak pemula yang mendapatkan kesulitan-kesulitan dalam menulis prosa fiksi. Hal ini terjadi karena kebanyakan para pemula kurang memiliki pengetahuan dan wawasan tentang menulis, khususnya menulis novel dan cerpen. Dikalangan mahasiswa pun, ternyata yang mengetahui cara menulis prosa yang baik juga masih sangat minim.
Proses atau tehnik membuat karya fiksi harus dikuasai terlebih dahulu oleh seorang penulis agar tulisan yang dibuatnya itu akan menjadi lebih menarik dan memiliki nilai estetis yang tinggi. Oleh karena itu, diperlukan suatu rujukan atau literatur yang berkenaan dengan teori penulisan prosa fiksi.
Berdasarkan latar belakang itulah, maka penulis mengangkat judul TEORI MENGENAI PROSA FIKSI dalam makalah ini. Khususnya teori yang berkenaan dengan menulis cerpen dan novel.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang penulis kemukakan tentang teori mengenai prosa fiksi, maka penulis membuat suatu rumusan masalah sebagai berikut:
1. apa yang dimaksud dengan karya fiksi
2. apa yang dimaksud dengan novel dan cerita pendek (cerpen)
3. bagaimanakah teori mengenai penulisan prosa fiksi, khususnya novel dan cerpen
1.3 Tujuan Penulisan
makalah ini penulis susun dengan tujuan:
1. menjadi salah satu sumber acuan mahasiswa dalam membuat karya fiksi
2. menambah wawasan dan pengetahuan pembaca tentang prosa fiksi
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Karya Fiksi
Dunia kesastraan mengenal prosa sebagai salah satu genre sastra disamping genre-genre yang lain. Prosa dalam pengertian kesastraan juga disebut fiksi (fiction). Istilah fiksi dalam pengertian ini berarti cerita rekaan (cerkan) atau cerita hayalan (Nurgiyantoro, 2007:2). Abrams, dalam Nurgiyantoro (2007:2) menyebutkan bahwa fiksi merupakan karya naratif yang isinya tidak menyaran pada kebenaran.
menurut Altenbernd dan Lewis (1966:14), dalam Nurgiyantoro (2007: 2-3), fiksi dapat diartikan sebagai prosa naratif yang bersifat imajinatif, namun biasanya masuk akal dan mengandung kebenaran yang mendramatisasikan hubungan-hubungan antar manusia. Pengarang mengemukakan hal itu berdasarkan pengalaman dan pengamatannya terhadap kehidupan.
Dari beberapa definisi di atas, dapatlah disimpulkan bahwa karya fiksi merupakan suatu karya yang menyaran kepada cerita yang bersifat rekaan, yaitu cerita yang tidak benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata, akan tetapi unsure penciptaannya merupakan pandangan si penulis dari kehidupan nyata disekitar lingkungan si penulis. Oleh karena itu, fiksi merupakan sebuah cerita, dan karenanya terkandung juga di dalamnya tujuan memberikan hiburan kepada pembacanya, disamping itu ada juga tujuan estetis.
Wellek & Warren, dalam Nurgiyantoro (2007:3), menyatakan bahwa membaca sebuah karya fiksi berarti menikmati cerita, menghibur diri untuk memperoleh kepuasan batin. Betapapun saratnya pengalaman dan permasalahan kehidupan yang ditawarkan, sebuah karya fiksi haruslah tetap merupakan cerita yang menarik, tetap merupakan bangunan struktur yang koheren dan tetap mempunyai tujuan estetik.
2.2 Pengertian Novel dan Cerpen
Edgar Alan Poe (Nurgyantoro, 2007: 10), mengatakan bahwa cerpen adalah sebuah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk, kira-kira berkisar antara setengah sampai dua jam-suatu hal yang kiranya tak mungkin dilakukan untuk sebuah novel.
Cerpen adalah karangan yang menuturkan perbuatan, pengalaman, atau penderitaan orang; kejadian dan sebagainya (baik yang sungguh-sungguh terjadi maupun yang hanya rekaan belaka) (KBBI, hal:210)
Dari dua pendapat tersebut, dapatlah disimpulkan bahwa cerpen merupakan suatu karangan yang berupa cerita rekaan yang menuturkan perbuatan dan penngalaman orang yang dapat selesai dibaca sekali duduk artinya tidak terlalu panjang ceritanya.
Novel adalah karangan prosa yang panjang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan Orang disekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku (KBBI, hal:788). Abrams, (nuriyantoro, 2007: 9) mengatakan bahwa novel adalah cerita pendek dalam bentuk prosa. Novella (bahasa itali) mengandung pengertian yang sama dengan istilah Indonesia novelette, yang berarti sebuah karya prosa fiksi yang panjangnya cukupan, tidak terlalu panjang dan tidak terlalu pendek.
Dari beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa novel adalah sebuah cerita yang bebentuk prosa yang panjang dan mengandung cerita kehidupan seseorang dengan orang disekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku.
2.3 Teori Penulisan Karya Fiksi
Menulis cerpen atau novel pada dasarnya adalah menyampaikan sebuah pengalaman kepada pembacanya. Menulis cerpen bukan sekedar memberitahu sebuah cerita. Dalam membuat suatu cerita, seorang penulis harus mempunyai keterampilan untuk menghidupkan bahan ceritanya (Sumardjo, 2007: 81). Dengan demikian, salah satu yang dapat dilakukan agar kita terampil menghidupkan cerita adalah dengan latihan-latihan menulis.
Untuk membuat suatu cerpen, seorang penulis harus mengerti unsur intrinsik dan ekstrinsik yang membangun suatu cerpen. Nurgiyantoro (2007: 23), menyebutkan bahwa unsur instrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Adapun unsur instrinsik itu antara lain: peristiwa, cerita, plot, penokohan, tema, latar, sudut pandang penceritaan, bahasa atau gaya bahasa.
Lebih lanjut, Nurgiyantoro (2007), menyebutkan bahwa unsur ekstrinsik adalah unsur yang berada di luar karya sastra itu sendiri. Wallek & warren dalam Nurgiyantoro (2007: 24) mengemukakan bahwa unsur ekstrinsik itu antara lain: unsur biografi, unsur psikologi, keadaan lingkungan, dan pandangan hidup pengarang.
Elemen atau unsur-unsur yang membangun sebuah fiksi atau cerita rekaan, novel termasuk didalamnya, terdiri atas tema, fakta cerita, dan sarana cerita. Fakta cerita terdiri atas: tokoh, plot atau alur, dan setting atau latar. Sarana cerita meliputi: unsur judul, sudut pandang, gaya dan nada, dan sebagainya (Suminto, Jabrohim,

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | SharePoint Demo